Hampir satu tahun berselang, tepatnya di tanggal 27 Februari 2020, tepat di tanggal itu yang merupakan hari jadi Kabupaten Purworejo, diperingati untuk kali yang kedua.

Sebagai salah satu aktivitas yang terangkai dalam seluruh aktivitas Peringatan Hari Jadi Purworejo, Gebyar PAUD dan Pembukaan POPDA 2020 pun dirancang untuk lebih terlihat, lebih terlibat, lebih memberikan dampak positif ke khalayak yang makin meluas.

Gebyar PAUD dan Pembukaan POPDA 2020 dipersiapkan untuk gelaran satu hari, yakni tiba di tanggal 4 Maret 2020.

Berbagai kesempatan sangat bisa jadi terbuka untuk khalayak, khususnya warga Kabupaten Purworejo yang sedang mengimplementasikan wujud kepedulian terhadap hari jadi kota kabupatennya dalam bentuk yang unik ataupun kreatif selama 14 jam itu, alias start pukul 08.00 hingga finish di pukul 22.00. [vir|mal]

Iklan

Apa yang sedang kita alami, niscaya amat bernilai di masa yang akan datang. Senyampang kita berkesempatan, torehan mimpi sekalipun, siapa tahu menjelma bak kenyataan tak terduga.

Peristiwa pergantian tahun baru dari 2019 ke 2020 M bisa jadi teragendakan cukup rapi di banyak tempat dan cukup masif di banyak benak. Kendati demikian, satu dua atau sebagian lainnya bisa saja berhalangan, entah satu dan lain hal.

Nah, rekaman ini diambil dalam sebuah perjalanan bermoda kereta api saat singgah di Yogyakarta, tepat tengah malam saat pergantian tahun.

Sementara itu, cameraman, tentu ada perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Anda bisa tebak?

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Purworejo, Kamis, (14/11/2019), mengajak puluhan santri dari sejumlah pondok pesantren di Purworejo untuk mengikuti Jelajah Santri #SantriMengawasi, di Loka Tamasya Keluarga Sikepel, Jati, Bener, Purworejo, Jateng. Diharapkan, para santri itu turut berpartisipasi aktif dalam mengawasi jalannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Pengawasan partisipatif itu juga upaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Ditandai dengan pengucapan berjamaah, sekitar seratus santri yang tergabung dalam Ballgiez Kabupaten Purworejo menggelar janji sekaligus deklarasi untuk turut mengawasi jalannya Pilkada di Purworejo tahun depan.

Forum pematerian terkait pelaksanaan Pilkada, disampaikan lebih awal. Diawali doa bersama yang dipimpin oleh Gus Qilal dari Darun Naja Lengkong, satu demi satu pemateri memaparkan uraian materinya.

Korsek Bawaslu Purworejo, Didik Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa santri selalu berperan penting dalam sejarah negeri ini, begitupun dalam Pemilu.

Sedangkan Ketua Bawaslu, Nur Kholiq, berharap santri bisa bersinergi dengan Bawaslu dalam mengawal demokrasi. Sejauh ini, terbukti bahwa santri bisa mengisi ruang-ruang strategis di negeri ini.

“Berbagai pelanggaran yang ada di sekitar kita semua, mari kita awasi bersama. Penegakan pemilu sesuai dengan semangat ajaran agama salah satunya soal ajaran anti suap,” Anik Ratnawati, Kordiv pengawasan Bawaslu di kesempatan berikutnya.

“Santri berkomitmen dan siap bersinergi menebar nilai-nilai kebaikan bersama Bawaslu,” tambah Habib Faqih Muqoddam, Presiden Ballgiez menyambut uluran Bawaslu Purworejo.

Loka Tamasya Keluarga Sikepel, Jati, Bener, Purworejo, Jawa Tengah ini mendadak semarak sejak pagi dengan serangkaian kegiatan ini. Ada kegiatan outbound dan sajian live music di wahana destinasi wisata yang lagi naik daun ini.

Ketua Bawaslu Kabupaten Purworejo, Nur Kholiq, mengikutsertakan santri pondok pesantren ini sebagai salah satu cara Bawaslu mengajak masyarakat menjadi agen penyampai informasi terkait aturan maupun pelanggaran.

“Iya, memang kami sengaja mengajak santri untuk ikut mengawasi jalannya pesta demokrasi Kabupaten Purworejo, selain mengawasi proses kampanye, nantinya para santri juga menjadi penyampai informasi terkait pilkada,” jelas Kholiq.

Santri merupakan bagian dari masyarakat yang sangat mudah diterima oleh masyarakat dan oleh berbagai macam kalangan. Fungsi dan tugas mereka nantinya, jelas dia, melaporkan kepada Bawaslu jika menemukan adanya pelanggaran kampanye ataupun menyampaikan informasi terkait peraturan kampanye pilkada 2020.

Sementara itu, Habib Faqih, menegaskan bahwa santri siap melapor terkait hal ini, sebagai tindak lanjut nyata setelah deklarasi tersebut.

Partisipasi para santri dalam pengawasan partisipatif pilkada setempat, menurut Nur Kholiq, semakin memperkuat langgam pengawasan pesta demokrasi di daerah setempat. Hal itu, menjadi modal besar bagi Bawaslu untuk mengawal pelaksanaan Pilkada 2020 agar terselenggara secara demokratis, berintegritas dan bermartabat. [Tim Purworejo Jepret]

Ada satu harapan untuk membangkitkan potensi desa melalui Festival Kalipucang Wetan dengan tema Harmoni Desa dengan kegiatan olahraga, seni budaya, musik dan kuliner yang digelar di pelataran Balai Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang.

Dibuka resmi oleh Bupati Batang Wihaji, di pelataran Balai Desa setempat pada Selasa malam, (22/10/2019) lalu.

Bupati Batang Wihaji mengatakan, β€œIni bagian dari kekayaan khasanah seni dan budaya serta kreativitas masyarakat, yang harus kita support untuk mendapatkan brand sebagai desa budaya dan produk Batik Rifaiyah.

Dijelaskan pula, Desa Kalipucang Wetan sudah terkenal di tingkat nasional dengan Batik Rifaiyah-nya, batik khas yang syarat akan makna spiritual, dari motif hingga proses membatiknya sambil melantunkan kidung syair berbahasa Jawa, dengan mengadopsi ajaran KH. Ahmad Rifa’i.

Sementara itu Ketua Panitia Festival Kalipucang Wetan, Gasta menambahkan, festival tersebut digelar dari 20-26 Oktober 2019, mengaku sanggat bangga dan salut atas kerja keras para generasi muda di Desa Kalipucang Wetan agar terus berkembang dan bangkit, karena mereka menyadari potensi desa yang dimiliki tidak jauh berbeda dengan di daerah lain atau perkotaan. Malah lebih banyak ada di Desa Kalipucang Wetan jika ada keinginan untuk mengembangkan sebagai desa wisata.

Kami merasa beruntung, mendapatkan kesempatan untuk bergabung di perhelatan itu. Panitia menjamu kami dengan Gawai, yang bisa mengingatkan kembali ingatan-ingatan masa silam terkait seluk beluk fotografi.

Gawai sendiri berarti Gayeng Wedangan Sareng GenPI, yang bisa mewadahi kebersamaan penuh kegembiraan dan kekeluargaan tanpa mengabaikan topik yang diangkat untuk diskusi dan berbagi.

Tersaji di sore itu, Jumat, (25/11/2019), Gawai mengangkat topik Foto Cantik, Konten Menarik. Bang Yos, yang menyajikannya.

Dari paparan Bang Yos ini, kami mencoba untuk menerapkannya di venue yang sedang melangsungkan aktivitasnya, hingga keesokan harinya. Beberapa konten langsung kami unggah sebagai perwujudan berbagi. Beberapa yang lain menjadi diskusi berikutnya, termasuk untuk unggahan berikutnya, termasuk untuk socmednet platform lainnya. [πŸ“· πŸ”­πŸŽ™πŸ“πŸ“£ Tim GenPI Purworejo GenPI Jateng||vir]

Familiarization Trip merupakan salah satu program wisata pengenalan Kemenpar untuk mempromosikan Indonesia yang berkonsep ‘seeing is believing‘, yakni alami sendiri, lantas yakinkan bahwa Indonesia itu mengagumkan!

Dinparbud Kabupaten Purworejo bersama Asita Jateng, Asita dan HPI DIY, GenPI Jateng, IBTC Jateng serta awak media di Purworejo, jadwalkan di tanggal 20-22/02/2018 lalu dengan aktivitas Famtrip.

Hari pertama, sejumlah destinasi wisata menjadi obyek kunjungan, dimulai tengah hari bolong di Goa Seplawan.

Susur goa berjarak lebih dari 750 meter itu masih memerlukan lampu senter di beberapa sudut dan lorong atau percabangan.

Pun begitu, detail stalaktit dan stalakmit membutuhkannya. Jua pada kedalaman jernih air yang hendak kita pijak, terkadang.

Kehijauan cat anak-anak tangga vertikal untuk masuk dan keluar goa ini, rupanya juga sanggup menghipnotis pemburu foto, terlebih saat tertetes butir air di sekelilingnya. Sebagian amazing, bisa jadi kita rekonstruksi dari situ.

Capai? Yups, capek! Maka jajallah gembel, adonan mirip rasa gebleg yang diisi sambal tempe mirip combro, dengan bentuk mirip pastel. Bingung?

Jawabannya, cobalah di kedai kuliner Goa Seplawan. Di kedai kuliner itu kita bisa beristirahat sambil berbincang tentang Goa Seplawan. Mulai dari pengalaman terdahulu, akses pencapaian lokasi, perbaikan infrastruktur destinasi, integrasi pengembangan terkait destinasi digital, bahkan berbagai kemungkinan seiring kabar santer aktifnya NYIA alias New Yogyakarta Internasional Airport, April tahun depan.

Tak berlebihan kiranya, para pemangku kepentingan dalam industri pariwisata nasional sekalipun telah bersiap untuk bersikap berkenaan NYIA ini. Perilaku wisatawan bisa jadi berubah akibat pola kunjungan yang sangat bisa jadi mengalami perubahan akibat NYIA (NYIA effects).

Lalu lintas bandara memungkinkan wisatawan mendarat di waktu-waktu dini hari misalnya. Jika terjadi demikian, sebenarnya justru tersembul peluang untuk menawarkan destinasi yang pas untuk mereka. Sanggupkah Goa Seplawan menyajikan pesona terbitnya Sang Mentari?

Lebih jauh, sekian destinasi wisata yang ada di Purworejo amatlah mendesak untuk segera berbenah. Jika Familiarization Trip untuk para pemasar destinasi wisata kali ini benar-benar membawa hasil nyata, kita semua pun merasa membutuhkan updating, hingga agenda tahunan Familiarization Trip ini sendiri berkembang progresif. [πŸ“· πŸ”­πŸŽ™πŸ“πŸ“£ Tim Purworejo Jepret GenPI Jateng]

Seperti halnya terdapat di Sungai Serayu Banjarnegara atau Sungai Elo dan Progo di Magelang, di Sungai Bogowonto pun terdapat layanan wisata minat khusus arung jeram. Kini, warga lokal pun telah lebih familiar dengan sebutan rafting. Kalau masih bengong, tambahlah kata praon atau ngeli (ngendhang) dengan perahu karet sebagai penjelas.

Penyuka jenis olah raga ini memang bisa memanfaatkannya sebagai refreshing. Bahkan desir adrenalin yang ditawarkan dalam aktivitas rafting bisa membuat kita ketagihan. Jangan khawatir, setiap kesempatan rafting sangat bisa jadi menantang kita untuk mengeksplorasi pengalaman baru yang sesungguhnya.

Seperti terjadi Ahad (07/01/2018) pagi, salah satu perahu yang melintas rute rafting Sungai Bogowonto, menempuh jalur yang tidak biasa dilalui. Debit Sungai Bogowonto kemarin pagi relatif berlebih. Batu besar di bilangan Tikungan Cinta itu tak jelas terlihat, karuan saja terhantam hebat, teriakan para penumpang perahu karet itu pun seolah saling bersahut. Aman, tidak ada accident, justru gemuruh di dada mereka tentunya, riuh rendah berkecamuk.

Kenapa bisa jadi kejadian tidak biasa? Anda yang berkali-kali mengalami sendiri, tentunya lebih banyak bisa bercerita, lebih dari sekadar mendengar cerita. [min]

Di Purworejo Jateng, rafting merupakan salah satu wisata minat khusus yang digemari segala usia. Peran pemandu sepanjang pengarungan turut berperan penting dalam membangun suasana psikografis.

Salah satu pengisi acara, musisi-musisi yang pernah menggawangi formasi Revolt, membawakan nomor-nomor classic rock.
Rembulan malam naik sepenggalah. Cuaca cerah. Selaput mega berarak menghidupkan cakrawala pandang kita ke kejauhan semesta. Di sudut jalan desa di tepi pematang sawah, kedamaian suasana pemukiman serasa tak mudah untuk dilupakan. Adalah warga Sumberan Kidul RT 01 RW 02 Sumbersari Banyuurip Purworejo Jateng, yang Jumat (19/08/2016) malam ini menggelorakan kembali karakter kebangsaan melalui aktivitas Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-71.
Dalam sambutannya, Sugeng, Kades Sumbersari berpesan agar selalu membawa nama baik di era kekinian, mengingat banyaknya tantangan seiring perkembangan jaman. Ia ajak warga untuk meneriakkan yel-yel, yakni pekik merdeka!
Muda teruna setempat mendapat kesempatan awal mengisi panggung sederhana di teras rumah salah satu warga. Baca puisi dan olah vokal silih berganti, diiringi musisi-musisi seniornya. Musisi lokal yang sempat tergabung dalam beberapa kelompok musik sebelumnya, ‘dibongkarpasangkan’ kembali dalam beberapa formasi berbeda. Jadinya, amat variatif, bukan?
Diselingi pengundian dan pembagian door prize, karya-karya berbagai genre dimainkan. Andai Kau Datang, Bunga di Tepi Jalan, membangkitkan kembali kenangan masa silam. Aryo dkk. membawakannya dengan enerjik. Forever in One, I’ll Remember You, dan seterusnya makin mengguncang dada. Revolt ada di jalur ini, dengan formasi lama era sering tampil di cafe. Tak ketinggalan formasi People Java Rasta (PJR) dengan Indra Key pada keyboard, menata kembali tempo dan dinamika reggae yang penuh greget. “I love You, Indonesia!” seru Djing, vokalis PJR di awal nomor Redemption. “Aja lali, sapa kowe,” lirik-lirik berbahasa Jawa ala Tony Q menggema. Ada juga Hitam Putih! Masih ada lagi, beberapa musisi pelajar dipertemukan kembali di sini dengan sajian aransemen nomor-nomor ala festival.
Panitia mengingatkan agar jam sebelas malam acara ini diakhiri. Kepada harianpurworejo.com Ari Revolt menjelaskan, “Hanya tiga hari kami mempersiapkan sajian ini!” Kesan dadakan disampaikan pula oleh Indra Key. Pun begitu, konsep reuni masih kental dikedepankan sebagai sarana silaturahmi, bertepatan perayaan ‘Pitulasan’.